Misteri Atlantis Yang Hilang



A.  Atlantis, Benua Yang Hilang
Atlantis adalah sebuah benua yang sampai sekarang masih belum diketahui letak geografisnya.  Atlantis sering disebut sebagai tempat yang tidak tercatat dalam peta karena memang tidak ada tempat pasti benua ini berada. Ada peneliti yang mengaitkan Atlantis dengan Samudra Atlantik. Ada juga yang mengaitkannya dengan Indonesia. Ini semakin membuat Atlantis menjadi benua yang misterius.
Selain karena peradabannya yang hilang dan tidak satu pun tertinggal jejak-jejak sejarahnya, Atlantis juga kerap dikaitkan dengan negara-negara di dunia, termasuk Indonesia.
     Menurut sebuah legenda, Benua Atlantis tenggelam hanya dalam waktu satu malam. Lantas, dimanakah letak sebenarnya benua ini, dan apa saja misteri-misteri yang berhasil terkuak tentang Benua Atlantis ini?

B.  Misteri Keberadaan Benua Atlantis
Terdapat puluhan, bahkan ratusan tempat yang diduga menjadi tempat tenggelamnya pulau Atlantis. Akan tetapi, tidak ada yang berhasil dibuktikan mirip dengan Atlantis yang sesungguhnya. Kebanyakan lokasi yang diusulkan berada di sekitar Laut Tengah. Berikut adalah rangkuman informasi dari beberapa ahli mengenai lokasi-lokasi Benua Atlantis

1. Antartika
     Penulis bernama Flem-Ath & Rand merupakan salah satu pendukung utama teori yang menyatakan bahwa Atlantis terletak di Antartika. Flem-Ath percaya bahwa Atlantis tidak benar-benar tenggelam, melainkan bergeser sebagai akibat perpindahan kerak bumi. Atlantis sekarang terlaetak di kutub selatan. Saat ini Atlantis terkubur di bawah es. Atlantis terkubur oleh permukaan air yang meninggi pada akhir Zaman Es.
     Bentuk Antartika yang sekarang didasarkan pada tingkat laut saat ini, bukan dari 11.600 tahun yang silam. Atlantis tidak benar-benar tenggelam di bawah laut. Jika diperhatikan lebih seksama, bayangan Atlantis masih dapat dilihat dalam peta modern Antartika.
     Namun, sayangnya, teori ini tidak sesuai dengan gambaran Plato dan Edgar Cayce. Plato menyebutkan bahwa Atlantis terletak di sebelah barat Pilar Hercules, bukan ribuan kilometer di selatan. Selain itu, Plato menggambarkan Atlantik sebagai titik yang dekat bagi para pelayar yang berada di Mediterania dan sedang menuju daerah yang sekarang di kenal sebagai Amerika Utara dan Amerika Selatan. Jadi, teori Flem ini masih lemah.

2. Bolivia
     James Allen, seorang penulis, menetapkan bahwa Bolivia sebagai lokasi Atlantis. Ia percaya bahwa seluruh daratan Amerika Selatan adalah benua yang hilang. Ia juga yakin bahwa Pampa Aullagas, daerah pegunungan tinggi di Bolivia sebagai pusat Atlantis. Allen menetapkan Andes, ujung selatan Danau Poopo sebagai wilayah ibu kota Atlantis. Meskipun dasar pemikiran ini sekilas tampak tidak mungkin, Allen memiliki landasan yang kuat. Ternyata, Pampa Aullagas berbentuk mirip dengan pusat kota yang digambarkan oleh Plato, dengan cincin-cincin tanah yang berpadu dengan cincin-cincin air.
     Selain itu, di dekat Pampa Aullagas terdapat dataran tinggi Bolivia yang cocok dengan gambaran Plato tentang daratan "persegi dan bujur" yang berfungsi sebagai kumparan yang melingkari pulau Atlantis. Di Andes juga ditemukan banyak emas, perak, tembaga, timah, dan orichalcum. Orichalcum adalah paduan emas dan tembaga yang menurut Plato digunakan sebagai pelapis dinding yang melingkari kota Atlantis.
     Menurut Allen, Benua Atlantis ini tidak tenggelam ke laut, dan yang tenggelam hanyalah ibu kota Atlantis.
Ibu kota ini dibangun di sekitar pulau vulkanik yang tenggelam ke lautan pedalaman Danau Poopo. Pulau vulkani ini berada persis di tengah benua, sebagaimana yang digambarkan oleh Plato.

3. Karibia
     Edgar Cayce percaya bahwa kepulauan Karibia merupakan sebagian dari sisa salah satu pulau yang tenggelam saat orang-oang Atlantis berpindah. Mereka harus menjauhi benua utama Atlantis yang mulai mengalami kerusakan parah akibat peperangan anak-anak Belial. Hal ini terjadi sekitar awal Zaman Es, sekitar 50.000 SM ketika sebagian besar daerah ini berada di atas air. Saat ini, pulau-pulau di Karibia dan Kuba masih merupakan bagian dari daratan yang lebih besar. Daratan ini berhubungan dengan Amerika Tengah melalui Semenanjung Yukatan.
     Dalam buku Atlantis: Insights from a Lost Civilization, Shirley Andrews menjelaskan bahwa selama Zama Es terakhir, dari 50.000-10.000 SM, begitu banyak air laut yang bercampur ke dalam salju dan es. Campuran ini membeku hingga mencapai tinggi satu mil di beberapa tempat. Akibatnya, permukaan Samudra Atlantik menjadi lebih rendah sekitar 350 m. Sementara itu, daratan di Laut Utara, Selat Inggris, dan kawasan Karibia menjadi berada di atas permukaan laut. Orang-orang Atlantis pindah ke wilayah-wilayah daratan ini karena tanahnya lebih stabil dari pada pulau Atlantis yang mulai tenggelam.
     Pada bulan Juli 2000, sebuah ekspedisi menemukan beberapa struktur bangunan yang besar, buatan manusia yang terletak 2.200 m di bawah permukaan Teluk Meksiko, sebelah barat daya Kuba, di dekat Semenanjung Yucatan. Lokasi ini tepat dengan lokasi perkiraan Edgar Cayce tentang Atlantis. Selain itu, ditemukan pula Jalan Bimini pada 1968 di dekat pulau Bimini, wilayah yang diyakini Cayce sebagai tempat orang-orang Atlantis melarikan diri pada 50.000 SM.
     Penulis Ivar Zapp dan George Erickson percaya bahwa Atlantis terletak di sekitar kawasan Karibia dan Amerika Tengah. Alasannya, di kawasan tersebut terdapat bangsa Inca, Maya, dan bangsa lain yang memiliki arsitektur hebat. Bukti lainnya, terdapat ratusan bola batu di daerah Delta Diquis, Kosta Rika. Batu-batu ini seolah-olah dibuat dengan mesin karena bentuknya sangat sempurna. Ivar Zapp meyakini bahwa kebudayaan Atlantislah yang menciptakan bola ini.
     Selain itu, terdapat laporan menarik tentang teknologi kristal Atlantis kuno di Karibia. Geoffrey Keyte dalam The Millenium Matters menggambarkan peristiwa aneh yang terjadi pada awal 1970-an. Saat itu, seorang pria bernama Dr. Ray Brown pergi untuk melakukan scuba diving di dekat Kepulauan Bari di Bahama. Dalam salah satu penyelaman, ia menemukan sebuah bangunan berbentuk piramida dan menyelidikinya.
     Berenang di sekitar piramida, Brown menemukan sebuah pintu masuk dan memutuskan untuk mencari lebih ke dalam. Melewati lorong sempit, Brown akhirnya tiba di sebuah ruangan persegi panjang kecil dengan langit-langit berbentuk piramida. Ia benar-benar takjub. Di ruangan itu tidak terdapat ganggang atau karang yang tumbuh, benar-benar bersih. Keajaiban lainnya, meskipun Brown tidak membawa lampu penerang, ia tetap bisa melihat segala sesuatu di dalam ruangan dengan penglihatan normal. Ruangan itu mendapat penerangan dengan baik, tetapi tidak ada sumber cahaya yang terlihat.
     Pehatian Brown tertarik ke arah batang logam yang terbuat dari kuningan berdiameter tiga inci. Batang logam ini tergantung di puncak tengah ruangan dan pada ujungnya terdapat banyak permata merah, yang meruncing ke satu titik. Tepat di bawah batang dan permata ini, terdapat batu berukir. Di atasnya ada sebuah batu piring dengan ujung bergulung. Di batu piring tersebut ada sepasang ukiran logam berwarna perunggu berbentuk tangan, seukuran tangan manusia, yang menghitam dan terbakar, seolah-olah telah mengalami panas yang luar biasa. Di genggaman tangan tadi terdapat sebuah bola kristal berdiameter empat inci. Brown mengambil bola tersebut. Karena takut yang ia temukan menjadi sitaan barang berharga oleh pemerintah Amerika. Ia tidak mengungkapkan langsung keberadaan kristal aneh itu. Akhirnya, pada 1975, ia memamerkan kristal temuannya pertama kali dalam seminar spiritual di Phoenix.

4. Kreta
     Setelah peradaban Minoa di Knossos, Kreta ditemukan oleh Sir Arthur Evans pada tahun 1900, banyak yang menghubungkan lenyapnya peradaban Minoa ini dengan kehancuran Atlantis.
     Istana Minoan dan bangunan yang ditemukan saat penggalian di Krossos, Crete dan di Akrotiri, serta Pulau Santorini, menunjukan bahwa masyarakat Minoa memiliki pengetahuan mengenai teknik pembangunan bangunan bertingkat dengan sistem pipa air yang rumit. Tidak hanya itu, masyarakat Minoa juga memiliki manajemen canggih mengenai aliran udara dan dinding yang tahan gempa.
     Santorini yang disebut Pulau Thera adalah situs kaldera vulkanik raksasa. Vulkanolog meyakini bahwa pulau itu dilanda letusan gunung berapi sekitar 1.600 SM. Kejadian itu disebut letusan Minoa. Letusan itu merupakan letusan yang paling kuat dalam sejarah peradaban. Letusan Minoa mengeluarkan sekitar 60 km kubik material bumi. Letusan ini juga menyebabkan abu setebal 10-80 m sejauh 20-30 km ke segala penjuru. Letusan ini juga mempunyai efek luas di seluruh wilayah Mediterania Timur. Biasanya, letusan seperti letusan Minoa bisa menghasilkan tsunami. Bukti arkeologi menunjukkan bahwa tsunami mungkin telah menghancurkan pemukiman pesisir Minoa di Kreta.
     Plato tidak menggambarkan adanya letusan gunung berapi. Akan tetapi, orang-orang yang yakin bahwa Pulau Thera adalah Atlantis yang memiliki tafsir lain. Atlantis yang ditenggelamkan oleh gempa bumi dan banjir, mugkin dapat diartikan sebagai letusan gunung berapi dan diikuti dengan tsunami.
     Meskipun pendapat yang menyebutkan bahwa Thera adalah Atlantis sangat menarik, pendapat ini kurang tepat. Alasannya, peradaban Kreta sangat dikenal oleh orang-orang Yunani dan Mesir sebelum dan sejak masa Solon. Selain itu, Pulau Thera jauh lebih kecil daripada pulau yang digambarkan oleh Plato. Letak Pulau Thera bukan di Atlantik; sebelah barat pilar Hercules. Dan, yang paling penting, pulau itu tak pernah tenggelam. Jadi, Thera bukanlah Atlantis.

5. Laut India
     Ada penemuan reruntuhan bawah air di lepas Pantai Mahabalipuram di Tamil Nadu, India Selatan. Penemuan ini dilakukan oleh The India Atlantis Expedition yang dimulai pada bulan Maret 1991.
     Di wilayah lepas pantai memang pernah ada peradaban Indus-Sarasvati. Peradaban itu dihancurkan oleh banjir pada akhir Zman Es. Banjir terjadi baerkali-kali antara 15.000 dan 7.000 tahun yang silam. Catatan arkeolog menegaskan bahwa tingkat budaya mereka sudah sangat tinggi.
     Meskipun agak mirip, reruntuhan bawah air ini bukanlah Atlantis. Sebab, ciri-ciri reruntuhan ini berbeda dengan yang ditulis oleh Plato

6. Sardinia
     Sardinia yang terletak di sebelah Barat Yunani dan Mesir adalah negara yang memiliki kekuatan militer yang hebat pada tahun 2.000-1.400 SM. Robert Ishoy dalam bukunya, Atlantis Discovered, menjelaskan bahwa Atlantis ialah negara kuat yang terletak di Pulau Sardinia. Atlantis menguasai sebagian besar tepi Mediterania Barat, bahkan mencoba menaklukan negara-negara berkembang, termasuk Mediterania Timur, Mignon Crete, Hellen awal Yunani, dan Mesir. Jika demikian, bisa dipastikan bahwa Atlantis memiliki armada laut yang tangguh.
     Meskipun menarik, teori Sardinia sebagai Atlantis tidak sesuai dengan cerita Plato. Dalam sejarah, Sardinia tidak pernah mampu menyerang Yunani, Mesir, seluruh Eropa, dan Asia. Menurut Plato, Atlantis hancur oleh gempa bumi dan banjir besar hingga tenggelam. Padahal, Sardinia tidak pernah tenggelam.

7. Laut Azov
     Laut Azov terletak di Utara laut Hit am antara Ukrania dan Rusia Selatan. Laut ini juga telah diusulkan sebagai lokasi Atlantis dalam buku berjudul Atlantis Motherland, yang ditulis oleh Eagle/Wind dan terbit pada 2003. Teori ini didasarkan pada bukti tektonik bencana gempa bumi dan banjir besar-besaran yang terjadi pada akhir Zaman Es, 9.600 SM. Atlantis dianggap sebagai pulau buatan manusia yang diciptakan dengan penggalian parit di daratan subur yang luas. Gempa bumi menyebabkan daratan tenggelam. Kemudian secara bersamaan, daratan itu tergenang oleh gelombang tsunami dari Laut Hitam dan luapan dari Laut Kaspia, yang disebut "Banjir Besar Atlantis"

8. Denmark
     Dalam bukunya The Celts, Gerald Herm menghubungkan asal-usul Atlantis sampai akhir Zaman Es dan banjir di pesisir timur Denmark

9. Paparan Sunda
     Paparan Sunda adalah Indonesi bagian barat, yang meliputi Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Paparan Sunda dianggap sebagai lokasi Atlantis. Pendukung gagasan ini menyatakan bahwa penduduk asli Paparan Sunda melarikan diri karena naiknya permukaan air atau ledakan gunung berapi. Selanjutnya, mereka mengisahkan kejadian ini pada orang-orang Mesir kuno. Dengan demikian, orang Mesir kunolah yang mengisahkan ulang cerita ini kepaa Plato. Namun, sayangnya, Plato tidak menerima cerita ini secara utuh. Akibatnya, tidak semua rincian Plato sesuai dengan cerita awal orang-orang Paparan Sunda. Pendukung teori ini adalah Stephen Oppenheimer dan Arysio Nunes dos Santos.

1 komentar:

Berkomentarlah dengan segera apabila ada link posting atau download yang mati, maka kami akan segera memperbaikinya!

Jangan segan-segan untuk berkomentar ^^
Berkomentarlah menggunakan bahasa yang baik

NO SPAM AND NO SARA!